Rabu, 10 Desember 2014

Konsep Manajemen Lembaga Pendidikan Islam



Konsep Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Pembuatan inisiatif menggambarkan bagaimana seseorang pemimpin memberi batasan dan struktur terhadap peranannya dan peran bawahannya untuk mencapai tujuan. Adapun konsiderasi menggambarkan derajat dan corak hubungan seseorang pimpinan dengan bawahannya yang ditandai dengan saling percaya, menghargai, dan menghormati dengan bawahannya. Dengan mengkombinasikan dua dimensi pembuatan inisiatif dan perhatian dapat dibedakan empat gaya kepemimpinan sebagai berikut: 1) perhatian rendah, pembuatan inisiatif rendah 2) perhatian tinggi, pembuatan inisiatif rendah 3) perhatain tinggi, pembuatan inisiatif tinggi, 4) perhatain rendah, pembuatan nisiatif tinggi.
Jaringan menegemen salah satu pendekatan tentang teori kepemimpinan yang menunjukkan gaya kepemimpinan secara jelas adalah jaringan menejemen (managerial grid), yang dikembangkan oleh Blake dan Mouton. Dalam pendekatan ini, manager berhubungan dengan dua hal, yakni perhataian dnegan produksi di salah satu pihak dan perhatain dipihak-pihak lain di satu sisi. Perhatain pada produksi pada tugas adalah sikap pemimpin yang menentukan sikap keputuan, prosedur, mutu pelayanan staff, efisiensi kerja, dan jumlah pengeluaran. Perhataina pada orang-orang adalah sikap pemimpin yang memperhatikan keterlibatan anak buah dalam rangka pencapaian tujuan. Dalam hal ini aspek-aspek yang perlu diperhatikan adalah berkaiatan harga diri anak buah, tanggungjawab berdasarkan kepercayaan, suasana kerja yang menyenangkan, dan hubungan harmonis.
Melalui penelitian bertahun-tahun Likert berhasil merencanakan empat sistem kepemimpinan yaitu:
1.      Sistem 1: Dalam sisitem ini pemimpin bersifat otokrasi, mempunyai sedikit kepercayaan dengan ank buahnya, suka mengeksploitasi bawahannya, dan bersikap paternalistk. Cara kepemimpinan ini memebri motifasi pada bawahannya dengan cara memberi kekuatan dan hukuman-hukuman, kadang memberi penghargaan secara kebetulan (Occasional Reward). Pemimpin pada sistem ini memperhatiakn komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses pengambilan keputuan ditingkat atas saja.
2.      Sistem 2: sistem ini bisa dikatakan bersifat otokrasi yang baik hati (Benevolent Authoritative). Pemimpin pada sistem ini mempunyai kepercayaan yang terselebung terhadap bawahannya, mau memotivasi dengan hadiah-hadiah dan ketakutan berikut hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat dan ide-ide dari bawahan serta memperbolehkan adanya delegasi weenang dalam proses keputusan, dalam sistem ini bawahan merasa tidak bebas membahas sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dengan atasan
3.      Sistem 3: Pada sistem ini dikenal dengan sebutan manager konsultatif. Pemimpin mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan, pemimpin gaya ini mau memotivasi dengan penghargaan dan hukuman yang kebetulan dan juga berkehendak melakukan partisipasi. Dia juga menetapkan dua pola hubungan komunikasi yakni keatas dan kebawah. Dia membuat kebijakan yang luas pada tingkat atas dan tetapi keputusan yang mengkhususkan pada tingkat bawahannya.
4.      Sistem 4: Sistem ini dinamakan sistem bergaya kelompok (partisipative Group) manager mempunyai kepercayaan penuh terhadap bawahannya, dalam setiap persoalan selalu mengandalkan bawahannya untuk mendapatkan ide-ide dan pendapat-pendapat, serta mempunya niatan untuk mempergunakan pendapat bawahannya secara konstruktif. Memberikan penghargaan secara ekonomis berdasarkan partisipasi kelompok dan keterliabatannya apada setiap urusan, terutama dalam penentuan tujuan bersama dan penilaian kemajuan tujuan tersebut. Pemimpin juga mau mendorong bawahannya untuk ikut bertanggung jawab membuat keputusan dan juga melaksanakan keputusan tersebut dengan tanggungjawab yang besar. Bawahan merasa mendapat kebebasan yang mutlak untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya bersama atasannya. Sistem ini mempunyai kesempatan lebih banyak peluang untuk  sukses.
Ø  Kurikulum dan pembelajaran
      Kurikulum dan pembelajaran dan hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan bentuk komunikasi ekstren yang dilakukan dengan atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan.dalam masyarakat,terdapat lembaga-lembaga penyelenggaraan pendidikan,lembaga keagamaan, kepramukaan politik,sosial olahraga,kesenian yang bergerak dalam usaha pendidikan.tujuan hubungan antara sekolah dengan masyarakat, dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu kepentingan sekolah dan kebutuhan masyarakat. Yaitu; a) memelihara kelangsungan hidup sekolah b) meningkatkan mutu pendidikan disekolah c) memerlancar kegiatan belajar mengajar.    
Ø  Manajemen kesiswaan
Kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan pengembangan guru. Prinsip-prinsip dan praktek-praktek kepemimpinan ini hendaknya dikaitkan dengan peranan kepela sekolah dan kedudukan pimpinan lainnya yang relevan, dan peranan kepemimpinan khusus yang meliputi hubungan dengan staf, siswa, orang tua siswa dan oarang-orang lain tempat kominiti sekolah itu berada
Banyak hasil-hasil studi yang menunjukkan bahwa kepemimpinan yang terdapat dalam setiap organisasi merupakan faktor yang berhubungan dengan produktifitas dan efektifitas organisasi.
Ø  Manajemen keuangan dan pembiayaan
Dana merupakan salah satu sumber yang secara langsung yang selalu menunjang afektivitas,dan efesiensi pengelolaan pendidikan  karena tidak terdapat ketidakpastian tidak hanya pada apakah pemerintah sebagai satu-satunya yang berperan dalam pendidikan,tetapi juga mengenai seharusnya pemerintah hanya memainkan sebagai peranan dalam penyelenggaraan.
A.    klasifikasi Dana pendidikan 
Pemikiran tentang dana pendidikan paling tidak dapat difokuskan pada dana langsung,dana tak lngsung, sumber-sumber dana pendidikan, kreteria kesejahteraan sosial maksimum, kreteria keputusan,dan beberapa masalah dalam analisis keuntungan biaya.
B.     Dana masyarakat dan dana pribadi
Dana masyarakat ialah dana yang dikleuarkan masyarakat untuk kepentingan masyarakat untuk kepentingan pendidikan baik dikluwarkan secara langsung maupun tidak langsung.berupa uang sekolah , uang buku,dan dana lainya.
Komponen utama manajemen keuangan meliputi prosedur,anggaran, akutansi keuangan, pembelajaran, pergudangan,pendistribusian, investasi, dan pemeriksaan.Bertolak dari pengertian, tahapan (fungsi), dan komponen manajemen keuangan,dalam prosesmanajemen keuangan sekolah diperlukan strategi pengelolaan yang efektif dan efisien
Pengelolaan dana disekolah.
  1. Melakukan analisis internal dan eksternal terhadap berbagi potensi sumber dana.
  2. Mengidentifikasi, mengelempokkan dan ,memperkirakan sumber-sumber dana yang dapat digali dan dikembangkan.
  3. Menetapkan sumber-sumber dana.
Proses Penyusunan Anggaran
Merencanakan anggaran,yaitu mengidentifikasi tujuan, menentukan prioritas, menjabarkan tujuan kedalam penampilan operasional yang dapat diukur menganalisis alternatif pencapaiantujuan dan analisis cost-efectiveness,dan merekomendasi alternatif pendekatan.   
Ø  Manajemen hubungan kerja sama sekolah dengan masyarakat
Penggunaan Istilah koordinasi sering dipertukarkan atau dilakukan secara bergantian dengan istilah kerjasama (cooperation). Padahal, koordinasi lebih dari sekedar kerjasama karen dalam koordinasi juga terkandung singkronisasi
Pada hakekatnya koordinasi merupakan proses menyatupaduan  kegiatan yang dilakukan pegawai dan berbagai satuan lembaga sehingga dapat berjalan selaras dan serasi. Dengan begitu, tujuan lembaga secara keseluruhan dapat diwujudkan secara optimal. Koordinasi bukan merupakan upaya sesaat, tetapi merupakan upaya yang berkesinambungan dan berlangsung terus menerus untuk menciptakan dan pengembangkan kerjasama serta mempertahankan keserasia dan keselaran tindakan, antara pegawai maupun unit lembaga sehingga sasaran-sasaran yang telah ditetapkan dapat diwujudkan sesuia dengan rencana.
Karakteristik koordinasi sebagai berikut:
a.       Tanggungjawab koordinasi terdapat pada pimpinan. Oleh karena itu, koordinasi merupakann wewenang dan tanggung jawab pimpinan, sehingga dapat dikatakan bahwa pimpinan bisa berhasil jika melakukan koordinasi.
b.      Koordinasi adalah kerjasama. Hal ini disebabkan kerjasama merupakan syarat mutlak terselenggaranya koordinasi.
c.       Koordinasi merupakan proses yang terus menerus (cotinue Process), dan berkesinambungan dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga.
d.      Pengaturan usaha kelompok secara teratur. Hal ini disebabkan koordinasi adlah konsep yang diterapkan didalam kelompok, bukan usaha individu melainkan sejulah individu yang bekerjasama didalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
e.       Kesatuan tindakan merupaka inti koordinasi, pimpinan merupakan pengatur usaha-usaha dan tindakan-tindakan setiap individua sehingga diperoleh keserasian dalam mencapai hasil bersama.
f.       Tujuan koordinasi adlah tujuan bersama (Common Purpose). Kesatuan usaha yang meminta kesadaran semua pihak untuk berpartisipasi secara aktif melaksanakan tujuan bersama sebagai kelompok tempat mereka bekerja.
Karakteristik koordinasi sebagaiman yang diurakan diatas, menunjukan bahwa keselarasan tindakan perlu selalu diupayakan untuk mencapai tujuan bersama, dan koordinasi yang memadai tidak datang begitusaja, tetapi perlu dikondisikan, dibina, dijaga, serta dikembangkan secara terus menerus dan berkesinambungan untuk kepentingan tersebut agar koordinasi dapata berjalan dnegan lancar, perlu diperhatikan 5 prinsip utama berikut:
1.      Koordinasi harus dimulai dari tahap perancanaan awal
2.      Hal pertama yang harus diperhatikan dalam koordinasi adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi kepentingan bersama
3.      Koordinasi merupakan proses yang terus menerus yang berkesinambungan
4.      Koordinasi merupakan pertemuan-pertemuan bersama untuk mencapai tujuan bersama.
5.      Perbedaan pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukaan secra terbuka dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan
6.      Manfaat kooordinasi, koordinasi sangat diperlukan dalam MBS, tertamauntuk menyatukan kesmaan pandangan antara berbagai pihak yang berkepentingan dan tujuan sekolah baik guru, kepala sekolah, personil sekolah, orang tau, maupun masyarakat.
Macam-macam Koordinasi
A.    Koordinasi interen terbagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut:
1.      koordinasi fertikal atau struktural antara yang mengkoordinasikan dengan yang dikoordinasikan secara struktural terhadap hubungan hierarkis. Hal ini dapat juga dikatakan koordinasi yang bersifat hierarkis, karena satu dengan yang lainnya berada dalam satu garis komando (line of Command).
2.      Koordinasi horizontal yaitu koordinasi fungsional kedudukan antara yang mengkoordinasikan dengan yang dikoordinasikan setingkat eselonnya. Menurut tugas dan fungsinya kedua mempunyai kaitan satu sama lain sehingga perlu dilakukan koordinasi.
3.      Koordinasi diagonal yaitu koordinasi fungsional yang mengkoordinasikan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi eselonnya dibandingkan yang dikoordinasikan, tetapi satu dnegan yang lainnya tidak berada pada satu garis komando (Line of Comand).
B.     Koordinasi ekstern, termasuk koordinasi fungsional dalam koordinasi ekstern yang bersifat fungsional , koordinasi itu hanya bersifat horisontal dan diagonal.
Daftar Pustaka:
Mulyasa E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosowa Karya.

PEKAN KONDOM NASIONAL



PEKAN KONDOM NASIONAL
Tepat 01 Desember 2013 kemarin, sebagai peringatan Hari AIDS Sedunia, Menkes RI yakni Dr. Nafsiyah Mboi membuat sebuah program bertajuk “PEKAN KONDOM NASIONAL”.
Pekan, artinya 7 hari,maka selama 7 hari, sejak 1 Desember akan ada pembagian kondom secara gratis di beberapa tempat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi penularan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Menurutnya, Kemenkes punya kewajiban untuk mengurangi penularan HIV. Pada perilaku seks berisiko, penularan HIV bisa dicegah dengan menggunakan kondom. Tentunya, menghindari perilaku seks berisiko jauh lebih dianjurkan.
Kondomisasi ini sendiri dilakukan setelah mereka berkesimpulan bahwa fakta tentang penularan virus HIV AIDS naik menjadi 60%, sedangkan penularan melalui jarum suntik menurun.
Kalau kita perhatikan, sesungguhnya program Pekan Kondom Nasional itu sendiri merupakan penerapan kebijakan yang mengaplikasian program ABDC oleh UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan WHO melalui PBB. Ringkasnya, A=Abstinence alias jangan berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C=Condom alias pakailah kondom, atau D=no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika.
Program ABCD sebenarnya cukup bagus, namun itu secara teori, kalau secara praktik maka akan sulit. Kenapa?
Program A, alias Abstinence alias jangan berhubungan seks, itu hanya sebuah himbaun yang sifatnya adalah nasehat. Bukan sebuah peringatan yang disertai dengan adanya sanksi kepada pihak yang melanggar peringatan tersebut.
Program B, alias Be faithfull alias setialah pada pasangan, maka ini multitafsir. Apakah yang dimaksud itu adalah setia pada pasangan yang halal (suami-isteri) atau bisa juga setia pada pasangan yang tidak halal, yang artinya mereka bisa disebut pasangan yang berzina. Sedangkan zina adalah salah satu penyebab terjadinya penyakit-penyakit yang mengerikan.Hari AIDS sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya untuk menumbuhkan kesadaran terhadap AIDS yang disebarkan oleh virus HIV. Penyebaran virus ini bisa melalui penggunaan jarum suntik yang terinfeksi HIV atau melalui hubungan seksual yang beresiko. Di Indonesia sendiri, angka penderita AIDS tergolong tinggi dan semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini bisa terjadi karena penggunaan jarum suntik yang tidak steril; misalnya dalam kelompok pemakai narkoba suntik dan sebagian besar terjadi karena hubungan seksual yang beresiko.
Kita juga sibuk berbicara moral dan agama tetapi kurang menyadari bahwa moral dan agama saja tidak cukup menghentikan penyebaran HIV/AIDS. Perlu sekali disadari bahwa tidak semua orang seperti kaum moralis dan agamis yang mungkin sangat bisa mengontrol kehidupan seksualnya sehingga tidak sampai melakukan hubungan seks beresiko. Tetapi tidak semua orang seperti itu. Untuk itulah kondom diperlukan sebagai pencegahan penularan HIV/AIDS.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menolak program Pekan Kondom Nasional yang digagas Kemenkes dan diselenggarakan KPAN. "Kami tegas menolak kegiatan pekan kondom nasional di Jatim. Kegiatan ini sama saja melegalkan dan membiarkan seks bebas," ujar Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori di Surabaya, Senin (2/12). Tujuan pencegahan virus HIV/AIDS bukan dengan membagikan kondom-kondom gratis ke masyarakat, karena hal ini justru akan semakin mendorong remaja-remaja melakukan seks bebas. "Bisa saja masyarakat akan mengartikan amannya sebuah seks bebas karena sudah aman setelah memakai kondom. Inilah nantinya yang dikhawatirkan dan justru AIDS akan berkembang," kata dia.
Seharusnya, kata dia, kegiatan yang dilakukan bersifat mendidik atau edukasi, di antaranya memberikan penyuluhan soal reproduksi dan pendidikan seks bagi masyarakat, bukan malah kampanye penggunaan kondom.
Diperlukan pula peraturan ketat mencegah seks bebas. Sebab, sumber penyakit HIV/AIDS adalah pergaulan bebas. "Di Jatim, kami bekerja sama dengan Pemprov terus berusaha menutup lokalisasi. Hingga kini, tercatat sudah sekitar 70 persen lokalisasi ditutup," katanya.
Pihaknya membuat surat edaran yang ditujukan kepada MUI kabupaten/kota se-Jatim untuk menolak PKN. Selain itu, pihaknya juga mengirim surat ke instansi terkait mengenai penolakan pembagian kondom kepada masyarakat.

Al-Qur’an Sebagai Sumber Nilai pendidikan islam



BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Di zaman dewasa ini, realita pendidikan belum seperti yang kita harapkan. Karena dari segi sistem pemerintah yang salah. Banyak anak-anak disekitar kita yang belum mampu sekolah, mungkin kurang mampu atau kebutuhan hidup yang semakin mahal. Dikalangan Mahasiswa sendiri, yang semakin banyak sarjana bukan malah menciptakan lapangan pekerjaan tetapi semakai banyak pengangguran. Sebenarnya orang Indonesia mampu untuk memajukan Indonesia. Banyak anak-anak bangsa, yang baru-baru ini meraih juara I dalam perlombaan tingkat dunia. Dan dalam hal Agama masih banya yang meremehkan. Al Qur'an di zaman sekarang ini, sangatlah baik apabila dikaji. Karena realita sekarang ini masih banya yang tidak faham apa yang disampaikan didalam ayat Al Qur'an.
Makalah ini sangatlah penting untuk dikaji sekarang ini, karena didalam makalah terdapat pesan penting tentang pendidikan, terdapat pesan taqwa ayat, dan amal sholeh yang perlu kita sampaikan kepada orang lain. Makalah ini mengkaji tentang Memahami Nilai-Nilai Al-Qur’an Dalam Sistem Pendidikan Islam. Dan diharapkan pembaca mampu mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari.
Unsur yang akan dikaji didalam makalah ini ialah unsur pendidikan, pengetahuan, sosial dan moral. Yang seseorang harapkan didalam mengkaji nilai-nilai Al Qur'an, agar dirinya mampu untuk mengamalkan ilmu yang ia peroleh. Karena banyak seseorang yang pintar tetapi tidak mengamalkan ilmunya, malah menyembunyikannya.   

1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dapat  dirumuskan masalah  sebagai berikut:
a)      Bagaimanakah   Al-Qur’an Sebagai Sumber Nilai pendidikan islam ?
b)      Bagaimana merealisasikan Al-qur’an dalam sistem pendidikan islam ?
c)      Apa tujuan memahami nilai-nilai Al-qur’an dalam sistem pendidikan islam ?






BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Al-Qur’an Sebagai Sumber Nilai Pendidikan Islam

Al-Qur’an tidak hanya sebagai petunjuk bagi suatu umat tertentu dan untuk periode waktu tertentu, melainkan menjadi petunjuk yang universal dan sepanjang waktu. Al-Qur’an adalah eksis bagi setiap zaman dan tempat. Petunjuknya sangat luas seperti luasnya umat manusia dan meliputi segala aspek kehidupan.
Bukan saja ilmu-ilmu keislaman yang digali secara langsung dari Al-Qur’an, seperti ilmu tafsir, fikih dan Tauhid, akan tetapi Al-Qur’an juga merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, karena banyaks ekali isyarat-isyarat Al-Qur’an yang membicarakan peroalan-perosalan sains dan teknologi dan bidang keilmuan lainnya.
Bercermin pada wahyu pertama kali turun kepada Rasulullah Saw., Allah adalah untuk mencanangkan dan mendorong manusia agar mencari dan menggali ilmu pengetahuan, yaitu dengan kata-kata “iqra” (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5). Dalam ayat-ayat permulaan itu ada kata-kata “qalam” yang berarti pena yang biasa menjadi lambang ilmu pengetahuan. Dengan demikian muncul berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui semangat dan spirit Al-Qur’an. Makin banyak di gali ayat-ayat Al-Qur’an itu, makin banyak pula didapati isyarat tersebut. Hal itu karena Al-Qur’an tidak akan habis-habisnya walaupun ditulis dengan tinta lautan yang luas, bahkan di tambah dengan tujuh lautan lagi (Q.S. Luqman: 27).
Tuntunan dan anjuran untuk mempelajari Al-Qur’an dan menggali kandungannya serta menyebarkan ajaran-ajarannya dalam praktek kehidupan masyarakat merupakan tuntunan yang tidak akan pernah habis. Menghadapi tantangan dunia modern yang bersifat sekuler dan materialistis, umat Islam dituntut untuk menunjukan bimbingan dan ajaran Al-Qur’an yang mampu memenuhi kekosongan nilai moral kemanusiaan dan spiritualitas, di samping membuktikan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang bersifat rasional dan mendorong umat manusia untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran serta kesejahteraan. Banyak ungkapan Al-Qur’an yang secara langsung maupun tidak tersirat mengajarkan pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu alam, social dan humaniora. Meski bukan ilmu an-sich sebagai tujuan, tetapi dari semua isyarat  tentang ilmu pengetahuan, yang diungkap oleh Al-Qur’an yang tidak dikenal pada masa turunnya, seperti dikatakan Dr. Aurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’an, Bible dan Sains Modern, telah terbukti tak satupun yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern.


a)      Realisasi Al-Qur’an Dalam Sistem Pendidikan Islam
Sesuai perkembangan masyarakat yang semakin dinamis sebagai akibat kemajuan ilmu dan teknologi, terutama teknologi informasi, maka aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an menjadi sangat penting. Karena tanpa aktualisasi kitab suci ini, umat Islam akan menghadapi kendala dalam upaya internalisasi nilai-nilai Qur’ani sebagai upaya pembentukan pribadi umat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, maju dan mandiri.
Secara normative, tujuan yang ingin dicapai dalam proses aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan meliputi tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan. Pertama, dimensi spiritual, yaitu iman, taqwa dan akhlak mulia (yang tercermin dalam ibadah dan mu’amalah). Dimensi spiritual ini tersimpul dalam satu kata yaitu akhlak. Akhlak merupakan alat control psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan berada dengan kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupannya. Rasulullah Saw merupakan sumber akhlak yang hendaknya diteladani oleh orang mukmin, seperti sabdanya. “Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.
Pendidikan Akhlak dalam Isalm tersimpul dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan kebijakan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran” berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam, yaitu ketakwaan, ketundukan dan beribadah kepada Allah SWT.
Kedua, dimensi budaya, yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dimensi ini secara universal menitikberatkan pada pembentukan kepribadian muslim sebagai individu yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan factor dasar (bawaan) dan factor ajar (lingkungan atau miliu), dengan berpedoman kepada nilai-nilai keislaman. Faktor dasar dikembangkan dan ditingkatkan kemampuan melalui bimbingan dan pembiasaan berfikir, bersikap dan bertingkah laku menurut norma-norma Islam. Sedangkan faktor ajar dilakukan dengan cara mempengaruhi individu melalui proses dan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan norma-norma Islam seperti teladan, nasehat, anjuran, ganjaran, pembiasaan hukuman dan pembentukan lingkungan serasi.
Ketiga, dimensi kecerdasan yang membawa kepada kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, professional, inovatif dan produktif. Diemsni kecerdasan dalam pandangan prikologi merupakan sebuah proses yang mencakup tiga proses yaitu analisis, kreativitas dan praktis. Kecerdasan apapun bentuknya, baik IQ, ISQ dan lain-lain saat ini diukur dengan tes-tes prestasi di sekolah, dan bukan merupakan prestasi di dalam kehidupan. Dulu kecerdasan itu diukur dengan membandingkan usia mental dengan usia kronologis, tetapi saat ini tes IQ membandingkan penampilan individu dengan rata-rata bagi kelompok dengan usia yang sama. Tegasnya dimensi kecerdasan ini berimplikasi bagi pemahaman nilai-nilai Al-Qur’an dalam pendidikan
b)      Tujuan memahami nilai-nilai Al-qur’an dalam sistem pendidikan islam
Sekaitan dengan hal tersebut, kiranya patut dikemukakan tujuan Pendidikan  Islam dalam perspektif Qur’ani, yaitu sebagai berikut:
1.    Mengenalkan manusia akan perananya di antara sesama makhluk dan tanggung jawab pribadinya sebagai khalifah di bumi.
2.    Mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
3.    Mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat dari alam ini.
4.    Mengenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah Swt.) dan memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya.
Dari keempat tujuan ini, meskipun saling berkaitan, namun dapat dipahami bahwa tiga tujuan pertama merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan keempat yakni ma’rifatullah dan taqwa kepada-Nya. Oleh karena itu, pada prinsipnya pendidikan Islam akan membentuk manusia bertaqwa kepada Allah dan memperoleh keridhaan-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
1.      Untuk mengetahui Al-Qur’an Sebagai Sumber Nilai pendidikan islam.
2.      Untuk mengetahui merealisasikan Al-qur’an dalam sistem pendidikan islam.
3.      Untuk mengetahui tujuan memahami nilai-nilai Al-qur’an dalam sistem pendidikan islam.



























DAFTAR  PUSTAKA
Aktulisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam. Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A. Ciputat Press
Anshori, Endang Syaifuddin, 1976. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam. Jakarta: Usaha Interprises.
Azra, Azyumardi, 1998. Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Al-Jamaly, Muhammad Fadhil, 1996. Filsafat Pendidikan  Dalam al-Qur'an. Surabya: PT. Bina Ilmu.
Shihab,M. Quraish, 2002. Tafsir al-misbah. Jakarta:lentera hati.